Awal mulanya suwung gung liwang liwung, kosong dan sunyi seperti berjelaga di tengah danau ujung bukit. Beku di dalam fatamorgana, resah mengunci kebodohan, dan lelah memerayu asa untuk menyerah.

Di kejauhan terdengar desir angin yang tidak membawa suara, namun mengguncang batin yang paling dalam. Pada saat itulah manusia mulai bertanya kepada dirinya sendiri: siapakah yang gelisah ini? Siapa yang merasa kehilangan? Dan kepada siapa segala rindu hendak dipulangkan?

Kegelisahan adalah pintu pertama menuju kesadaran. Sebab manusia sering berjalan jauh mencari Tuhan, namun lupa menengok ruang paling sunyi di dalam dirinya sendiri. Ia mengejar cahaya ke segala penjuru dunia, tetapi membiarkan hatinya sendiri dipenuhi debu keakuan.


Wejangan Sang Guru

“Anakmu dudu awakmu,
dudu jenengmu,
dudu drajatmu.
Sing sejati iku kang bisa nyawang tanpa mripat,
krungu tanpa kuping,
lan rumangsa tanpa angen-angen.”

Wejangan itu mengajarkan bahwa hakikat manusia bukanlah tubuh, nama, jabatan, ataupun pujian yang disandangnya. Semua hanyalah pakaian sementara bagi ruh yang sedang singgah di dunia. Namun manusia terlalu sibuk merawat topeng, hingga lupa mengenali wajah sejatinya.

Dalam perjalanan menuju hakikat Tuhan, banyak orang tersesat oleh bayangan dirinya sendiri. Merasa paling benar, paling suci, dan paling dekat dengan langit. Padahal semakin seseorang merasa telah menggenggam Tuhan, semakin jauh ia dari pemahaman sejati.

Sebab Tuhan tidak dapat dikurung oleh kata-kata. Ia tidak selesai dijelaskan oleh kitab-kitab, tidak habis diterangkan oleh logika, dan tidak dapat dimiliki oleh golongan mana pun. Tuhan hanya dapat dirasakan oleh hati yang bersedia hancur dari kesombongannya.


Hakikat yang Tak Bisa Digenggam

“Sapa kang ngaku ngerti Gusti,
sejatiné durung ngerti.
Awit Gusti ora bisa dicekel pikiran,
ora bisa dikurung tembung.
Yen kowe isih gumunggung ngerti,
tegese kowe isih nyawang nganggo awakmu.”

Pada titik itulah perjalanan spiritual berubah arah. Ia bukan lagi tentang mencari kesaktian, mengejar kemuliaan, ataupun ingin dipandang suci oleh manusia. Perjalanan itu adalah proses meluruhkan diri sendiri sedikit demi sedikit.

Kesunyian menjadi guru.
Keheningan menjadi kitab.
Dan luka menjadi pintu untuk memahami kasih Tuhan.

Manusia mulai menyadari bahwa penderitaan bukan selalu kutukan. Kadang ia adalah cara semesta membersihkan hati dari kerak keangkuhan. Sebab batin yang penuh oleh “aku” tidak akan mampu memantulkan cahaya Ilahi.

Maka orang yang berjalan menuju hakikat harus belajar suwung — kosong dari pamrih, kosong dari haus pujian, dan kosong dari keinginan untuk dipandang lebih tinggi dari sesamanya.

Karena hakikat bukan ditemukan dengan kegaduhan, melainkan dengan luluh.
Bukan dicapai dengan banyak bicara, melainkan dengan kesadaran yang bening.
Dan bukan dimiliki, sebab manusia hanyalah pejalan yang sesekali diberi kesempatan mencicipi cahaya-Nya.


Penutup

Pada akhirnya, ketika segala keakuan runtuh, yang tersisa hanyalah diam yang hidup. Kekosongan yang penuh makna. Dan cinta yang tidak lagi meminta balasan.

Di situlah Guru Waskitho berbisik untuk terakhir kalinya:

“Nalika ora ana aku,
ing kono Gusti katon.”