Perjalanan cahaya sebelum kata menjadi sandi-sandi dialektika.

Percikan cahaya menuntun cipta, rasa dan karsa dalam trisakti jalma manusia yang hidup di alam dunia. Tumbuh dan berkembang dalam peran yang mencari sangkan paraning dumadhi.

Nuansa dan romansa hingga asa dan kecewa menjadi petunjuk ilmu yang kalakone kanti laku bagi kesadaran jiwa-jiwa yang mencapainya. Perjalanan yang di perjalankan nyampar nyandung pakarti tirakat intuisi laksana menetesi dahaga dalam sanubari.

Benar dan salah adalah drama penguji kesombongan atas diri yang suci. Kesempurnaan menganalogi dalam setiap bilangan angka yang menjadi visualisasi keberagaman yang padahalnya keesaan. Ada adalah sebab adanya tiada dan tiadanya sebab yang ada, dualitas ialah paradox yang menjadi persimpangan keyakinan yang kita baca sebagai petunjuk awal dan akhir kehidupan.

Hakikat seharusnya tidak mengingkari syariat dan sebaliknya, dimana syariat dan hakikat adalah kekosongan jika tanpa Tarikat. Dengan Tarikat adalah jalan yang menunjukan kesaksian, maka sahadhat akan membawa kebijaksanan dalam kenyataan dhohir dan batin. Maka disana ada Tauhid, yang melebur semua warna dan peranan kembali kepada Tuhan.

Segala sesuatu entah ilmu, pengetahuan, sain dan teknologi apapun itu tanpa ketauhidan adalah pengingkaran, karena tiadalah ujung yang dapat di capai manusia. Konsekuensi dalam Ingkarnya manusia pastilah hanya menemukan satu warna abu-abu dan keraguan, haus dan terombang-ambing seperti Kumba Karno.

Itulah neraka kehidupan “RAGU”.

“Kenalilah dirimu maka akan mengenal Tuhanmu”

Disanalah ketenangan sebab yakin dan iman.

Every Soul Will Taste Of Death