Merpati datang di bulan Juni, membawa surat yang entah sejak kapan terselip di sela musim. Suasana saat itu terasa ganjil—seperti rindu yang diam-diam ingin mendekap punggung diri sendiri. Mendung bergelayut rendah, gelap dan berat, namun tak juga menjatuhkan hujan. Langit seperti menahan sesuatu yang belum siap dilepaskan.
Aku membuka surat itu perlahan. Huruf-hurufnya terasa asing. Aku mengejanya dengan ejaan lama, sedangkan surat itu dituliskan dengan bahasa yang terasa begitu baru. Rasanya seperti duduk berhadapan dengan seorang tuan besar; aku membaca dan mengangguk pelan, meski sebenarnya tenggelam dalam kebingungan.
Petir di kejauhan seolah sedang belajar bersabar. Padahal biasanya bulan Juni sudah lengang. Jemuran pakaian berjajar aman di pelataran rumah, anak-anak bermain tanpa takut hujan turun tiba-tiba. Namun hari itu, bahkan cuaca pun seperti ragu kepada dirinya sendiri.
Surat yang Datang Terlalu Awal
Barangkali manusia memang sering dipertemukan dengan sesuatu sebelum waktunya. Sebuah nasihat datang terlalu awal. Sebuah kehilangan hadir terlalu cepat. Atau sebuah jawaban muncul ketika hati bahkan belum selesai merumuskan pertanyaannya.
Aku kembali menatap surat itu.
Lama.
Lalu kusadari, mungkin surat ini memang bukan ditujukan kepada diriku yang sekarang. Bukan untuk seseorang yang masih mudah goyah oleh kenangan, masih gemetar menghadapi sepi, dan masih terlalu sering salah mengartikan harapan.
Mungkin surat ini ditulis untuk diriku di hari lain. Untuk seseorang yang sudah lebih tenang menghadapi badai, lebih lapang menerima kehilangan, dan lebih dewasa memahami bahwa tidak semua hal harus segera dimengerti.
Menunggu Waktu yang Tepat
Maka kulipat kembali surat itu perlahan, menyimpannya seperti menyimpan musim yang belum waktunya datang. Sebab ada pesan-pesan yang baru menemukan makna ketika manusia sudah cukup jauh berjalan.
Dan Juni, dengan mendung yang tak kunjung hujan itu, mengajarkan satu hal sederhana:
bahwa tidak semua yang datang harus segera dipahami.
Kadang-kadang, hidup hanya meminta kita untuk menyimpannya terlebih dahulu.
Sajak Kecil di Bulan Juni
Juni duduk di tepi jendela,
membiarkan mendung menggantung tanpa suara.
Ada surat yang belum selesai dibaca,
ada hati yang belum siap menerima makna.Waktu ternyata bukan sekadar jarak,
melainkan keberanian untuk tumbuh perlahan.
Dan manusia,
sering kali baru mengerti setelah kehilangan.
Catatan yang Tertinggal
“Ada surat yang tidak salah alamat, hanya salah waktu dibaca.”
“Tidak semua pesan datang untuk segera dipahami. Sebagian hanya singgah agar kita belajar menunggu waktu yang tepat.”
“Juni mengajarkan: bahkan hujan pun tahu kapan harus jatuh dan kapan hanya menggantung di langit.”