Masih aku mendengar nyanyianya, seperti matahari yang harus berpulang untuk kembali datang. Entahlah, itu suatu kerela'an atau karena terpaksa, bisa juga mungkin pilihan atau di tetapkan.

Aku hanyalah pengembara, yang terus berjalan dalam rangkaian harapan untuk memerangi asa, sampai saat suatu ketika aku berada di hutan belantara di balik pepohonan dan di sela belukar, aku melihat ada batu besar yang berlubang sperti goa kurcaci, yang disana sangat gelap dan hanya terdengar suara-suara asing, yang terkadang lantang terkadang samar.
Rasa hausku karena jutaan pertanya'an yang membawaku ngalmbara telah menyeretku mendekati dan mencoba masuk semakin dalam dan lenyap pada kegelapannya, suara yang terdengar menjadi seperti serpihan cahaya yang mengarah pada jembatan-jembatan, aku masih linglung melihat cahaya berwarna-warni, yang mengarahkan pada jembatan yang berbeda-beda.
Lama aku terdiam dan larut dalam kesunyian, sampai salah satu cahaya menghampiriku dan menusuk jantungku untuk kembali berjalan, aku ditunjukan satu cahaya dengan kesama'an oleh niatku mencari jawaban atas segala kegelisahan batinku, hingga sampai aku pada dasar lautan pertanyaanku sendiri bersama jawabnya. Aku semakin memudar dan lenyap bersama setiap jawaban yang ku dapati, terus aku berjalan semakin jauh larut dalam segala sesuatu hingga sirnakan segalanya, semua pertanyaan dan jawaban itu ada padaku kini. Dan itu semua karena aku mengenal dia sang cinta sejati, yang saling berkorban karena saling cinta dan manunggal mengabadi dalam adanya ketiadaan.