Bagaimanapun juga aku tidak pernah mengerti cara untuk mengungkapkan rasa, terkadang kata-kata tak seiring makna dan yang ada hanya coretan penanda saja.

Jika aku mulai menulis itu hanya apa yang ada dalam fikiranku saja, rasaku hanyalah bumbu penyedap arah kata. Yang terlihat di batinku hanya ada dua warna yang tak bisa aku membedakanya mana gelap mana terang, keduanya samar atau aku yang tak berani untuk menatapnya lebih dalam.

Entahlah, fikiranku selalu mengacaukan tekatku dalam melihat lebih jeli. Aku lebih kepada tentang rahsaku yang membawaku kedalam gelap untuk melihat sisi terang dan kedalam terang akan melihat sisi gelap.

Seandainya keduanya di pisahkan ataupun aku memilih singgah di salah satunya, disana seperti neraka yang berkobar. Aku hanya menemukan ketenangan diantara dan bersama keduanya.

Ketinggian akan membekukan dan kedalaman melenyapkan, diantaranya ada sejuk kehangatan yang mungkin justru tinggi dalam kelenyapan.

β€œ Jika itu seandainya maka adalah benar, namun jika itu adalah benar maka akan salah. β€œ

Sa’at berjalan di tengah roda maka akan menopang seluruh beban. Karena disana ada Sang Bijaksana yang di mana saat kita coba menujunya adalah seperti berjalan di tepi jurang yang sangat curam. Disana membutuhkan ketenangan dan keyakinan.

Seandainya terjatuh bukan suatu kegagalan ataupun penderitaan, karena keyakinanmu akan mengantarkanmu kepada tujuanmu.

Ataupun tetap terjaga dalam keseimbangan berjalan di tepi jurang menuju tujuanmu begitu pula akan sampai pada kepadanya.

Namu lain halnya jika kita berjalan dalam jalan yang luas, pastilah akan terbebas dari kekawatiran jatuh, namun menjaga untuk tetap lurus itu sangatlah sulit saat kita berada di jalan yang sangat luas itu. karena kita akan kehilangan arah dan dan terombang ambing oleh kiri dan kanan, karena berjalan mencari titik tengah tidaklah mudah.

Kebijaksanaan seperti pertemuan dalam perpisahan karena saat pertemuan pasti akan ada yang kita tinggalkan, saat kita meninggalkan pasti ada yang dipertemukan.

Bijaksana itu bukan si pelaku namun yang menyaksikan keduanya. Dan ia pasti ada diantara keduanya.

Maka mereka yang sampai pada Bijaksana adalah yang telah melenyapkan keakuanya, dan melebur kepadanya.