Lorong yang Tidak Pernah Pagi
Jam tiga pagi aku terbangun dari tidur
di kamar yang dindingnya lembap oleh sisa mimpi.
Dari sela lantai terdengar barisan semut berarak,
seperti pasukan kecil yang menabuh genderang lapar
di lorong panjang kepala manusia.
Mereka naik turun bayangan,
melingkari meja, retakan tembok, dan gelas setengah kosong,
sementara lampu redup menggantung pucat
seperti bulan yang kelelahan menjaga malam.
Aku diam.
Namun langkah-langkah kecil itu perlahan berubah
menjadi dentuman jantungku sendiri;
cepat, gelisah, seperti seseorang yang dikejar sesuatu
di spiral lorong tanpa ujung.
Mungkin pikiranku memang sedang diburu dunia
yang semakin hari semakin asing bentuknya.
Wajah-wajah memakai topeng kesopanan,
mulut penuh doa,
tetapi matanya seperti pintu besi yang dingin.
Kadang kemunafikan tumbuh
seperti mantel hitam di musim hujan.
Bukan untuk terlihat indah,
hanya supaya manusia tidak menggigil oleh rasa malu.
Lalu aku bertanya dalam gelap:
apa yang lebih memalukan
daripada hidup sebagai bayangan sementara
yang sibuk berpura-pura abadi?
Cinta dan dendam ternyata serupa sungai bawah tanah.
mengalir sunyi di lorong jiwa,
memberi hidup pada sebagian diri,
dan menenggelamkan sebagian lainnya perlahan-lahan.