Ruang dan waktu yang terekam dalam memori sang penggembala di padang ilalang yang gersang, kemerdekaan jiwa yang tak kunjung datang , bagai daun kering yang terhempas angin dan berlalu, ia seperti termangu dalam tunggu. Suasana dalam ruang kosong yang tak tersikap dalam batas dan realitas, menguras deras keluh dan peluh yang meramu asa dalam lelah.

Kesadaran meraja tanpa otoritas yang telah tergilas logika, prasangka dalam sendu bukan berburuk sangka namun luka telah menjelma. Nada-nada terjangkit penyakit layak harmoni toxic menjalar dalam setiap pembuluh darah.

Mencari dan terus mencari tak tau mana yang palsu dan mana yang asli, lantas kepalsuan yang di puja ke aslian dengan bangga di sirnakan. Jati diri entah kemana akan dapat di temui sementara yang ada para Resi anyar dengan nyanyian dogmatis. Kehilangan mutiara di dalam diri sama halnya para pelacur yang menarikan nafsunya dan menerbangkan raganya dalam ketelanjangan untuk persinggahan tuan-tuan.

Jalan menemui kebijaksanaan adalah jalan menuju puncak yang di penuhi aral rintang, badai terus memporak porandakan gubuk gubuk kosong, kesunyian menghempaskan kegaduhan balada dilematis yang miris namun berkesan bengis.

Oh lelana ujarku manusia, menghimpun ribuan kata dan makna dari pengetahuan seperti menggenggam bara yang berapi-api, sdikit lena hancurlah dunia oleh lidah lunglai dan kepala yang membatu.

Semuanya itu hanyalah kefanaan duniawi rangkaian keterbatasan manusia, semua keluar dan masuk dalam rangkaian peristiwa yang tak tesurat dengan gamblang.

Jauh dalam kedekatan ini yang membuatku linglung, sulit dalam kemudahan ini yang membuatku murung, dan rumit dalam kesederhanaan ini yang memperjalankanku. Seperti matahari senja yang ingin menikmati auroranya sendiri sedangkan cahaya Ia lah sejatinya yang meninggalkan aurora sebagai salam dan rahmat bagi seluruh alam sebelum tenggelam dalam maknawi.

Seandainya semua manusia tahu jalan pulang, maka tiadalah yang berpulang

yogyakarta, 29 maret 2023