Pekat kabut di suasana malam gunung merbabu, dingin yang menusuk hingga ke tulang lemahkan hasrat jiwa yang seaakan menghilang, seakan kaki menginjak ranting pun tak patah, riada daya dan kuasa di dalam kesadaran yang tak disadari nurani berserah, menghadap kalbu yg remang aku berlahan berucap pulang.
Fajar tak kunjung mekar, diantara semak belukar aku berikrar sabar, aku merasa kekuatan sesungguhnya ada dalam kelemahan, aku tak lagi mampu berucap tentang cinta karena yang kurasa rindu yang tersulam dalam sehelai kain penyelimut batin.
Pejalanan tanpa gerak langkah kini mendominasi hingga literasi terasa basi, diam adalah jawaban terbaik untuk mengerti dan memahami yang sejati, cahaya yang ku nanti tak lagi mentari namun ia yang hadir dalam relung hati, ialah petunjuk jalan pulang menuju kediaman hakiki.
Gunung yang ku daki adalah rangkuman sunyi yang berteriak merobek hati, karena disana aku ditunjukan diatas ketinggian aku melihat kedalaman dan asal munculnya cahaya dari dasar lautan, sehingga ketinggian hanyalah tempat rekreasi sedangkan dasar lautan adalah tempatku bersemayam.