Seandainya manusia tak menghitung waktu sebagaimana mereka melihat pergantian siang dan malam, meskipun tetap saja puncak malam hanyalah angka yang mereka lihat, pada akhirnya manusia tak melihat pergantianya, hanya gelap yang mereka lihat.
Jikalau mereka tak membatasi imajinasi mereka, betapa indahnya setitik cahaya manifestasi dari kegelapan yang tak lain Ialah maknawi. Betapa megahnya alam semesta ini, karya Agung dari sang Maha Kuasa.
Apabila mereka sadar untuk menyadari kesadaran mereka yang sadar akan kesadaran demi kesadaran, maka niscaya manusia tak pernah dapat menentukan hidup itu pada saat mimpi ataukah pada saat yang mnurut mereka sedang terjaga.
Bilamana saat manusia terkunci pada lelamunan, mereka yang mulai mengerti akan sadar bahwa raganya telah tertinggal. Sungguh kematian yang manusia takutipun tiada pernah mereka akan sadari dan mengerti. Karena kebanyakan dari manusia hanya mengenali raganya yang memiliki ruang dan waktu yang terbatas bahkan mereka membatasinya sendiri.
Aku pernah singgah dalam tulisanku ini, karena jalan menuju tulisanku diatas adalah melalui tulisan di bawah ini.
Angka 10 adalah puncak kesadaran insan, dimana nilai tertinggi ialah ketika kosong ada di depan semakin banya kekosongan semakin tinggi nilai nya. Adai saja angka satu di depan sebanya apapun itu hanyalah kosong nilainya.
Hidup adalah ruang sunyi, musik ialah kesunyian yang disuarakan, keindahan adalah esensi, bahagia adalah kesadaran.
Tanpa kita sadari tiadalah kebahagiaan. “Every soul will taste of death” , haqul yakin adalah tingkat kesadaran tertinggi dimana ia tak pernah terikat diantara siang dan malam, hidup dan mati karena Abadi. Mengingat kematian adalah jalan menuju pencarian, kemana kita setelah kematian akankah ada kematian seandainya manusia menyadari dunia ialah mimpi bagi penghuni keabadian.
Lagi dan lagi hanya kesadaran yang mengerti jikalau abadi ialah pusaran rasa yang berkelit dalam kata memutari kalbu yang mengejakan isyarat tentang rahsa,
Tiba-tiba blank… have nice dream…