Ada malam-malam yang tidak meminta cahaya. Ia hanya ingin ditemani oleh sunyi yang duduk diam di sudut dada.
Maka menangislah—
bukan karena lemah,
melainkan karena air mata sering kali lebih jujur daripada kata-kata.
Setiap tetesnya mengalir ke sungai fana yang penuh kiasan dan makna. Di sana manusia belajar, bahwa luka tidak selalu harus dilawan, kadang cukup dipahami hingga ia berubah menjadi tenang.
Tentang Luka dan Keikhlasan
Sebab mereka yang sadar dan mengerti akan meletakkan suka dan duka dalam satu rasa yang sama:
keikhlasan.
Dan dari keikhlasan itu lahirlah keridhoan—untuk menerima jalan yang telah digariskan, tanpa banyak mengutuk keadaan.
Hidup sesungguhnya sederhana. Namun dunia sering datang membius mata dan hati, membuat manusia tersesat di antara keinginan-keinginan yang sementara.
Diam yang Menenangkan
Karena itu, diamilah kediamanmu.
Tenangkan hatimu dalam satu keadaan:
ketentraman.
Jangan terlalu jauh mengejar gemerlap hingga lupa arah pulang. Ingatlah kematian, bukan untuk menakuti hidup, tetapi agar kau mengerti bahwa selain mencari jalan kembali kepada-Nya, segala yang dibanggakan dunia hanyalah kesia-siaan yang singgah sebentar.
“Barang siapa mengenal sunyi dalam dirinya,
maka ia tidak akan mudah dipermainkan dunia.”
Sajak Sunyi
Kadang dunia terlalu bising,
hingga manusia lupa mendengar dirinya sendiri.
Padahal ketenangan tidak lahir dari keramaian,
melainkan dari hati yang berhenti melawan takdir.Ada air mata yang jatuh tanpa suara,
namun justru paling dekat dengan doa.
Dan ada sunyi yang terlihat kosong,
padahal di sanalah Tuhan sering berbicara.
Penutup
Dan pada akhirnya, yang paling menenangkan bukanlah tentang memiliki segalanya, melainkan hati yang mampu berkata:
“Aku menerima.”
“Tidak semua kesedihan harus dijelaskan. Sebagian cukup dipeluk dalam diam.”
“Orang yang mengenal ketenangan tidak akan mudah lapar pujian.”
“Sunyi bukan musuh. Kadang ia hanya rumah bagi hati yang sedang belajar kembali kepada dirinya sendiri.”