Bahtera terkurung dalam sembilu

Gunjing pasak bergeming

Tarian ombak beriring nada mencekam

Saat denging tunakan rungu

Gelap butakan pandangan

Lemah seraya berserah

Berlari simpuh diterjang gelombang

Berpulang sebelum pulang

Seiring senja, biaskan aurora

Kesaksian dipertanyakan

Kunci pembuka ruang peleburan

Lenyap dalam sunyi

Dituntun pengakuan dalam ketelanjangan

Menyatu dalam keabadian

Dalam samudra kehidupan, kita seringkali merasakan bahtera kita terkurung dalam sembilu, diterpa oleh ombak tantangan yang tak terduga. Pasak-pasak yang kita andalkan bisa bergeming, dan suara ombak menjadi nada yang mencekam dalam perjalanan ini.

Tetapi kita, manusia, tidak pernah sepenuhnya terjatuh dalam kegelapan. Meskipun pandangan kita terbatas oleh kegelapan, kita tidak pernah sepenuhnya buta terhadap arti hidup. Dalam saat-saat genting, kita belajar untuk berserah, melepaskan kendali, dan merangkak melalui gelombang yang mendera.

Kematian, seperti senja yang tak terduga, kadang-kadang tiba sebelum waktunya. Namun, dalam momen-momen tersebut, kita juga dapat menemukan keajaiban, seperti aurora yang bersinar saat senja memudar. Dalam pengalaman hidup yang penuh misteri, kesaksian kita sering kali dipertanyakan, tetapi pengakuan sejati kita adalah apa yang mengikat kita pada keabadian.

Kita semua adalah bahtera yang mengarungi lautan kehidupan, dan walaupun ombak terkadang mencekam, kita juga menemukan keindahan dalam setiap perjalanannya.

Sekali lagi;

“Every soul will taste of death”

"Kematian adalah bagian tak terhindarkan dari perjalanan kehidupan kita, tetapi kita dapat membuat makna sejati dalam cara kita menjalani perjalanan itu."

Ms

"Kematian adalah saat kita bertemu dengan Tuhan, dan oleh karena itu, kami hidup dengan rasa hormat dan persiapan untuk pertemuan itu."

- Jalaluddin Rumi